Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Belanja Vs Menabung.

Kebiasaan banyak orang menabung ketika ada sisa uang. Penghasilan mereka digunakan untuk kebutuhan dahulu baru kemudian jika ada sisa digunakan untuk menabung. Jika tak ada sisa maka mereka tidak menabung. Kebiasaan seperti inilah yang menyebabkan kita cenderung meminjam uang ketika perlu. Sebagai contoh, menyekolahkan anak harus pinjam uang, menikahkan anak harus pinjam uang, renovasi rumah harus pinjam uang. Memang tak ada salahnya dengan meminjam, tapi jika kita punya tabungan kita tak perlu meminjam. Menabung itu ada 2 tujuan, tujuan untuk jangka pendek seperti bayar tagihan listrik, bayar cicilan, kebutuhan sehari-hari dll. Tujuan menabung lainnya adalah tujuan jangka panjang, seperti biaya sekolah, biaya kuliah, dana pensiun dll. Untuk tabungan jangka pendek lebih baik dilakukan di bank. Mengapa? Karena di bank kita punya banyak fasilitas kemudahan, seperti ATM, Debet card, E-banking dll. Menabung di bank juga bisa diambil setiap saat, jadi untuk dana darurat dan untuk ke...

Belajar Itu Menyenangkan

Mengaja r adalah gampang- gampang susah. Selain harus menghadap i banyak orang dengan bermacam karakter juga latar belakang pendidikan yang berbeda, kita juga memilik i beban moril yang lumayan berat jika materi yang kita sampaikan tidak dapat diterima atau tidak dimengerti  oleh murid-murid kita. Tugas pengajar bukan hanya menyampaikan materi saja, tapi harus berdialog, melibatkan murid agar mereka pro akti fdalam mengikuti training dan bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang. Itulah tugas saya sebagai trainer. Tehnik menyampaikan materi yang terlihat mudah ternyata sangat menguras pikiran saya. Agar murid tak merasabosan saya harus punya segudang ide cara menyampaikan agar terlihat menarik juga agar para murid bisa dengan mudah memahami dan mencerna materi yang saya ajarkan. Jika kita lihat cara mengajar para guru kebanyakan sekarang ini, yang hanya memberi, menjejali dari satu arah saja, tak peduli murid suka atau tidak, mengerti atau tidak tanpa melibatkan m...

Ikhlaslah kawan.

Malas, itu yang sering dirasakan oleh agen asuransi. Banyak hal yang membuat kita enggan melakukan tugas kita sebagai agen. Takut ditolak lah, takut orang nya tak mau di temui, jauh, hujan dan masih sejuta alasan lagi yang memenuhi otak kita dan terus mengganggu. Kalau sudah begini, lalu apa yang akan kita dapat. Banyak waktu yang telah kita sia-siakan hanya untuk mengobrol di kantor, bengong melamun dan banyak lagi. Kawan, sekarang coba kita lihat para petani. Setiap hari mereka pergi ke sawah. Membajak kemudian mencangkul. Lalu menyebar benih. Apa mereka yakin mereka akan panen nanti? Menanam padi seringkali gagal, hama, cuaca yang tidak menentu, kadang banjir kadang kemarau. Tapi hal-hal seperti itu tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap pergi ke sawah. Buat mereka hama bukanlah halangan, mereka sudah siapkan pestisida untuk memberasnya. Banjir, mereka sudah membuat tanggul-tanggul. Mereka siap mengantisipasi apapun yang terjadi. Setelah beberapa bulan mereka bekerja tapi ...

Telpon Lagi dan Lagi.

Menjadi karyawan yang tidak mempunyai job desk yang jelas, memang cukup membingungkan. Apalagi bagi karyawan baru. Contoh pekerjaan yang seperti ini adalah agen asuransi. Para agen dituntut untuk bisa menciptakan sendiri pola kerja sesuai dengan kebiasaan kita. Mereka dituntut untuk bisa menguasai produk sambil tetap harus melakukan penjualan, bahkan dibulan pertama mereka bergabung. Kalau tak biasa dan bingung berkepanjangan maka banyak agen yang menyerah. Penjualan di bidang asuransi berawal dari telpon. Biasakan untuk bisa telpon sehari sebanyak 20 orang. Awal yang berat, tapi dengan membiasakan diri menelpon seseorang, kemampuan berbahasa kita akan terus terasah. Lama-kelamaan kita akan tahu dimana celah atau cara kita menghadapi berbagai karakter orang di   telpon. Memang semua proses dalam penjualan asuransi berawal dari telpon. Kemudian membuat janji temu dan pada akhirnya benar-benar ditemui barulah proses prospekting dimulai. Maka jika kita tidak melakukan prose...